| Fenomena dan Kontroversi Cinta |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Friday, 12 December 2008 01:41 |
|
Di ufuk Indonesia hidup seorang wanita yang hampir menyelesaikan jenjang kuliah S1 pada sebuah kampus yang mengadopsi nama seorang Pahlawan Syiah Kuala. Kampus ini cukup popular dan menjadi impian bagi rakyat di daerah ini. Mereka menyebutnya “Jantoeng Hate Rakyat Aceh”. Lain halnya dengan wanita itu, sepanjang menjalani bangku kuliah ia baru mengalami rasa ketertarikan dengan kampus tersebut di akhir semester 4.Surat pindah ke Universitas Islam Muhamadiyah Yogyakartaa sudah sempat ia ajukan ke Pembantu Rektor 3.Sambil menunggu perpindahan ia tetap mengikuti kuliah seperti biasa.Penantian itu merubah keputusannya karena ia menemukan sebuah model pembelajaran dan dosen yang memikat hatinya dan menjadikan sebuah stimulus untuk tetap menyelesaikan kuliah di kampus tersebut. Dosen itu bernama Mr Elly dan Mr Ilham. Kedua dosen ini sangat dekat dengan sang wanita. Sang wanita dan kedua dosen tersebut berteman baik walau itu di luar urusan kampus. Hingga kini mereka sering chating walau ketiganya berada di Negara yang berbeda-beda. Mr Elly dengan postur tubuh yang cacat akibat gempa berada di Malaysia untuk mengambil S3nya dan Mr Ilham bersama kedua putra dan Istrinya Bebby sudah menetap di Jerman sejak tahun 2002 untuk menyelesaikan program doktornya. Mata kuliah Kimia Analitik dan Fisika merupakan mata kuliah yang sangat di senangi wanita ini karena ia kurang rajin menghafal kimia organic. Analisa dengan teknologi yang canggih pada masa itu menggunakan “gas chromatography” berhasil ia deteksi pada senyawa kristobalit ukuran konsentrat 0.1 ppm(part per million).Keberhasilan ini memotivasinya untuk meneliti sebuah bahan an-organik di Pegunungan Sabang dengan alat X-Ray Difraction. Penelitian ini sebagai studi pendahuluan di kampus tersebut. Sebagai kajian Pendahuluan, ia harus rajin mengunjungi warnet untuk mencari data-data dari kampus yang sudah menemukan perbandingan silica yang ada. Di sela-sela browsing ia juga berchating ria dengan program MRlc.Ia pun sangat senang menggunakan nick name Khurul. Nama yang begitu teduh menurutnya. Seorang lelaki dengan nick name Kamil memulai percakapan ala MRlc : …Hi…..ASL dong (Age/Sex/location). Gelombang dengan frekuensi tinggi itu selalu menyatukan mereka dalam 2 monitor yang berbeda lokasi. Kamil berada di sebuah lokasi dengan letak astronomis yang sangat berbeda dengan khurul yang mengakibatkan perbedaan waktu WIB dan WIT dari GrenWich. Dari Sabang sampai Merauke menjadi SoundTrack kisah mereka di masa itu. Tabulasi frekuensi dan intensitas yang tinggi saat chatting membuat keduanya sangat ketergantungan. Konektivitas energi yang diberikan Kamil kepada Khurul menimbulkan satu titik kerinduan di keduanya. Tanpa disadari, keduanya sampai ke zona nyaman untuk menyampaikan keluh kesahnya. Ada satu kesamaan di keduanya. Dua provinsi ini (Aceh dan Papua) ingin MERDEKA. Hal ini pernah terbersit dalam pikiran pendek sang wanita. Sang Lelaki mulai melakukan ekspansi jaringan dengan telepon. Ungkapan cintapun terlontar manis di tangan kiri sang wanita melalui gagang telepon. Kaget….bingung…..dan senang membuat denyut nadinya mengalami kecepatan hingga 200 kali/ menit.Aliran darah mempercepat distribusi oksigen agar sang wanita kembali ke tahap relaksasi.Hal ini sebenarnya biasa dialami orang-orang yang jatuh cinta. Kesepakatanpun diantara mereka mulai terjalin. Agak aneh memang keduanya. Tidak pernah bertemu tapi mereka bercita-cita hubungan itu bisa membawa keduanya ke tahap sakral dalam syariah islam yaitu : Married. Fase yang dituju sangat jelas. Hal ini memotivasi sang wanita untuk mempercepat skripsinya. Sang lelaki sebagai katalisator yang sangat hebat dalam percepatan jenjang S1nya. Sang Wanita berhasil menyelesaikan jenjang S1 dengan waktu 3,8 tahun. Cukup fantastis untuk jurusan kimia. Senyawa cinta terlarut dalam cairan tubuh di keduanya. Polaritas cinta membuat keduanya mampu berhibernasi walau ada satu hal yang menjadi titik kelemahan dalam hubungan ini. Gaya tarik ion yang kuat dalam tubuh keduanya mempertemukan mereka secara visual di kota Jakarta. Lucu, aneh….tapi ini sebuah kenyataan yang bukan faktor kebetulan. Sang wanita sangat yakin segala sesuatu dapat terjadi dengan design yang sangat sempurna dari Sang Khalik. Awal pertemuan mereka di Jakarta tanpa bantuan media informasi membuat kedunya kikuk dan malu untuk memulai kisah. Padahal hubungan keduanya sangat dekat jika menggunakan media informasi. Tatapan, gerak tubuh dan bahasa keduanya menyiratkan jika keduanya sangat mencintai. Hari itu menjadikan moment khusus bagi keduanya. Merekapun melakukan hal yang sama seperti pasangan-pasangan lain jika memadu cinta. Makan bareng, nonton dan ngobrol hal yang berbau romantis. Pertemuan 1 kali dalam setahun itu tidak melunturkan cinta di hati mereka. Mereka sama-sama saling mengagumi dan memahami sebuah perbedaan di keduanya. Ikatan cinta itupun semakin kuat. Enam tahun keduanya menjalin hubungan sebagai kekasih.Merekapun memberanikan diri untuk menuju fase perkawinan.Satu penghalang membuat hubungan kekasih ini menghabiskan waktu sedemikian lama. Satu masalah yang bukan syariat ingin diubah dari paradigma orangtua sang wanita. Ia pun mencoba menyembunyikan masalah itu dengan keraguan karena kejujuran melawan hati nuraninya dan kekasihnya. Sang lelaki meminta agar sang wanita dapat menceritakan semuanya kepada orang tua sang wanita tanpa ditutupi. Wanita itu meminta pengertian dari lelakinya yang akhirnya disetujui dengan ketidaknyaman hidup di keduanya. Persiapan pernikahan keduanya sekitar 40 persen. Sejumlah uangpun sudah diberikan lelaki itu sebagai mahar yang diminta sang wanita. Penuh kegembiraan orang tua wanita ingin menampilkan sebuah pesta yang cukup mewah. Maklum sang wanita ini anak pertama. Tidak jarang wanita itu sering merasa terganggu dengan sikap orangtuanya yang ingin mempercepat hari pernikahan keduanya. Kekasih ini juga cukup bingung dengan waktu yang sangat cepat dari waktu yang mereka inginkan. Karena sang wanita terikat kerja sebuah instansi.Kegelisahan atas masalah yang ia sembunyikan kepada orangtuannya ia rasakan ketika lelakinya mulai menjaga jarak dengannya. Sang lelaki ingin agar sang wanita bisa berkata jujur tentang keberadaannya. Pagi itu sang wanita membuat kue rasa pisang dengan temannya. Tiba-tiba ibunya mengirimkan sebuah pesan kalau apa yang ia tutupi selama ini sudah diketahui oleh ibunya. Mereka sangat kecewa atas tindakan sang wanita malah menyalahkan sang lelaki. Padahal semua ini skenario sang wanita. Ternyata orang tua wanita itu menerima pernyataan itu dari lelaki ketika ibu ingin menanyakan tanggal pernikahan. Menangis…….itulah yang dilakukan wanita itu. Ia mencoba tidak menyalahkan siapapun. Ia mencoba dengan hati gundah gulana untuk meminta pengertian dari orangtuanya. Kekerasan hati kedua orangtuanya sulit untuk di lembutkan. Sang wanita meminta bantuan kepada saudara yang memiliki pengaruh untuk menjelaskan maksud dan tujuannnya. Sepasang kekasih ini mulai mendiskusikan cara yang harus mereka tempuh agar mereka bisa tetap menikah. Mereka ingin mencoba menghadap orangtua wanita dengan mendatangi langsung ke provinsi yang berbeda dengan keduanya. Sang wanita mencoba datang lebih awal dan akan disusul oleh lelakinya. Dari Jakarta sekitar jam 3 sore sang wanita berangkat menuju kediaman orangtuanya dengan waktu tempuh 2 jam dengan pesawat. Jam 10 malam tepat ia tiba di rumah orangtuanya dengan sambutan yang sangat dingin. Ia mencoba memberanikan diri untuk masuk kerumah tempat ia menyelesaikan SMAnya dulu. Sang Ibu mempersilahkannya untuk duduk seperti tamu. Tapi tidak disangka sang ayah langsung menanyakan segala sesuatu agar ia dapat membatalkan pernikahannya dengan sang lelakinya. Ia tetap diam dengan permintaan ayahnya. Tidak menjawab sepatah katapun. Ternyata hal ini membuat sang ayah sangat emosi.Sang ayah terus memaksa agar ia cepat memberikan keputusannya. Sang wanita mulai berbicara : “Yah, aku bisa paham kekecewaan ayah kepadaku. Aku memang gak pernah menjelaskan masalah itu. Ayahpun tidak pernah menanyakan hal itu. Aku tahu sulit bagi ayah. Tapi tolonglah mengerti juga kalau aku sangat mencintainya. “Detik itu juga sang ayah kalap dan memecahkan sebuah piring tepat dikepala sang wanita itu. Dia mulai terjatuh saat ayah menghempaskannya kepintu. Sang wanita ketakutan dan memegang kepalanya yang penuh darah. Dalam hatinya ia berdoa : Ya Allah, jangan jadikan ayahku memperlakukan hal yang lebih buruk lagi. Sang ibu mulai membersihkan serpihan kaca di kepala dan sekitarnya. Dan memaksanya untuk istirahat. Istirahat dengan rasa pusing di kepalanya membuat ia tidak bisa tidur di malam itu. Sang wanita masih menikmati malam itu dengan dzikir sambil menunggu shalat Tahajud. Iapun berdoa agar ayahnya dapat berubah. Pagi sebelum subuh iapun masih berkeyakinan kalau Allah mendengarkan doanya. Doa yang dipanjatkannya saat Shalat Fajar penuh keharuan. Ia ingin mewujudkan sebuah janjinya kepada lelakinya. Akhir subuh ia mulai merasakan sakit kepala yang teramat sakit. Iapun mulai lemah karena tidak memiliki nafsu makan dan selalu mendengarkan ucapan anak durhaka dari keduanya. Di tengah melemahnya pisik ia berkata kepada ayahnya : Aku tidak akan menikah dengannya. Sang wanita berpikir kalau penderitaan ini akan berakhir. Ternyata tidak….!Mereka tidak mempercayai ucapannya. Malam yang mencekam itu sangat menakutkan baginya sampai saat ini. Ketakutan bahkan ke khawatiran dalam memulai hubungan baru dengan orang lain. Dengan sms yang singkat ia memutuskan ikatannya dengan sang kekasih. Sang wanita dan lelaki mencoba tetap bisa berhubungan baik dan bekerja dengan sebaik mungkin. Walau cita-cita mereka tidak terwujud, keduanya selalu menempatkan diri dengan sistem yang baru. (anita) |